Minggu, 08 Desember 2019

Kalender Masehi ( Kalender Gregorian)

Tahukah anda sejarah kalender Gregorian?

Negara terbaru yang menggunakan kalender Masehi adalah Arab saudi ini melengkapi prestasi Kalender yang paling banyak dipakai diseluruh dunia yang tidak lain adalah kalender Gregorian. Kalender Gregorian merupakan salah satu prestasi gemilang Gereja Katolik, dan bukti bahwa Gereja tidak menentang atau bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Nah, bagaimana sejarah kalender yang paling menjadi acuan di seluruh dunia ini?

PERMASALAHAN

Sejak zaman prasejarah manusia membuat perhitungan waktu dengan memanfaatkan pergerakan benda-benda langit, terutama matahari dan bulan.

Masalahnya, waktu perputaran matahari dan bulan ini berbeda. Beragam bangsa dan kebudayaan telah mencoba menciptakan kalender yang memasukkan baik perhitungan matahari maupun perhitungan bulan ke dalam sistem kalender mereka, namun hal ini tentu menjadi sebuah tantangan besar.

KALENDER JULIAN

Kalender pertama yang berhasil memecahkan masalah di atas adalah kalender Julian, yang diperkenalkan oleh Kaisar Julius (Julius Caesar) pada tahun 45 SM. Kalender ini diciptakan untuk menggantikan kalender Romawi lama yang berdasarkan pada perhitungan bulan dan makin lama makin tidak akurat.

Kaisar Julius, dengan dibantu oleh ahli astronomi bernama Sosigenes, membuat kalender matahari dengan panjang bulan yang sama. Tahun Julian pertama dimulai pada tanggal 1 Januari 46 SM, bertepatan dengan ulang tahun ke-708 dari kota Roma.

Panjang rata-rata satu tahun kalender Julian adalah 365,25 hari. Setiap 4 tahun sekali, disisipkan satu hari kabisat untuk menjaga keharmonisan antara tahun kalender dan tahun ekuator. Kaisar Julius menetapkan bahwa bulan Januari, Maret, Mei, Juli, September, dan November memiliki 31 hari, sementara bulan lainnya 30 hari, kecuali Februari, yang pada tahun-tahun biasa memiliki 29 hari dan pada tahun kabisat memiliki 30 hari.

Penerus Kaisar Julius, yaitu Kaisar Augustus, dalam usahanya menyandingkan diri dengan sang pendahulu yang hebat, menambahkan 1 hari pada bulan Agustus, sehingga bulan Juli dan Agustus sama-sama berjumlah 31 hari. Tambahan 1 hari ini diambil dari bulan Februari. Dan untuk menghindari bulan berjumlah 31 hari berturut-turut, bulan September dan November dijadikan 30 hari, dan Oktober dan Desember menjadi 31 hari.

KEKELIRUAN KALENDER JULIAN

Kalender Julian menjadi kalender acuan yang digunakan sepanjang sejarah Kekaisaran Romawi. Gereja Katolik juga kemudian mengadopsinya sebagai acuan untuk kalender liturgi selama kurang-lebih 15 abad.

Hari Raya Paskah ditempatkan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama yang pertama setelah ekuinoks musim semi (vernal equinox). Ekuinoks adalah waktu di mana orbit dan posisi sumbu bumi sedemikian rupa sehingga matahari melintasi pertengahan khatulistiwa persis; ini menyebabkan satu hari di mana panjang siang dan malam menjadi sama bagi belahan bumi utara maupun selatan. Ini juga adalah waktu di mana sumbu bumi berada tegak lurus. Ada 2 kali ekuinoks dalam setahun, yaitu ekuinoks musim semi pada bulan Maret (sekitar tanggal 20) dan ekuinoks musim gugur pada bulan September (sekitar tanggal 22).

Tentunya, perhitungan ekuinoks ini sangat penting, karena jika salah, maka Hari Raya Paskah dirayakan pada hari yang salah, dan keliru jugalah penempatan hari-hari raya Gereja lainnya.

Seiring waktu, tampaklah bahwa kalender Julian ini ternyata belum akurat. Satu tahun kalender Julian ternyata lebih panjang 11 menit dan 14 detik daripada yang seharusnya. Sehingga, setiap 130 tahun, hari ekuinoks mundur 1 hari. Sebagai contoh, saat kalender Julian pertama kali diperkenalkan, ekuinoks jatuh pada tanggal 25 Maret. Pada tahun 325 M saat Konsili Nikea, ekuinoks sudah mundur ke tanggal 21 Maret. Pada tahun 1500-an, ekuinoks sudah mundur sebanyak 10 hari.

Perbedaan 10 hari ini sangat penting tidak hanya bagi perayaan Gereja, namun juga bagi navigasi dan pertanian, sebab para nelayan, pedagang, dan petani menggantungkan mata pencaharian mereka pada perubahan musim.

GEREJA MENGAMBIL TINDAKAN

Pada akhir abad 15, petinggi-petinggi Gereja menyetujui bahwa kesalahan merayakan Hari Raya Paskah merupakan sebuah skandal.

Seorang astronom dan doktor dari Italia, Luigi Lilius, mengusulkan sebuah solusi di mana 10 hari dihilangkan dari kalender, untuk memperbaiki kesalahan kalender Julian. Lilius mengusulkan agar koreksi ini dilakukan secara bertahap. Adik Lilius mempresentasikan teori ini kepada Paus Gregorius XIII.

Paus Gregorius XIII bertekad untuk menyelesaikan masalah kalender secara definitif. Maka setelah mendengarkan teori dari adik Lilius, Paus menugaskan Christoph Clavius, seorang imam Jesuit yang juga ahli matematika dan astronomi, untuk mulai melakukan riset. Ide-ide dasar dari Lilius digunakan, namun Clavius menyatakan bahwa pengurangan 10 hari tersebut harus diimplementasikan sepenuhnya sesegera mungkin, bukan bertahap. Hasil penelitian Clavius dipresentasikan kepada Paus dan kemudian diresmikan dalam surat Inter Gravissimus, tertanggal 24 Februari 1582.

KALENDER GREGORIAN

Kalender Gregorian diimplementasikan pada tanggal 4 Oktober 1582 menurut kalender Julian. Karena 10 hari dihilangkan dari kalender tersebut, maka tanggal 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 menurut kalender Gregorian.

Sri Paus sebenarnya tidak pernah mewajibkan bangsa dan kerajaan manapun untuk menggunakan kalender yang baru ini. Namun, akurasi dan manfaat kalender Gregorian segera dirasakan, sehingga bangsa-bangsa lain dengan cepat meresmikan penggunaan kalender ini.

KALENDER GREGORIAN DAN GEREJA-GEREJA YANG TERPECAH

Kalender Gregorian tidak diterima secepat yang diharapkan, karena pada saat itu sudah terjadi Reformasi Protestan (tahun 1517) yang memecah belah Gereja. Banyak negara pusat gerakan Reformasi seperti Jerman dan Prussia yang menerima kalender ini dengan penuh kecurigaan. Dunia Protestan baru secara luas menerimanya sekitar tahun 1700-an.

Gereja Anglikan di Inggris juga awalnya menolak kalender baru karena dianggap sebagai bentuk misi Gereja Katolik. Maka selama 150 tahun, bangsa Inggris tertinggal 10-11 hari dalam perhitungan waktunya. Akibatnya mereka merayakan Tahun Baru bukan pada tanggal 1 Januari, melainkan 25 Maret. Kalender Gregorian baru diimplementasikan di Inggris pada tanggal 2 September 1752, dan hari berikutnya dinyatakan sebagai tanggal 14 September 1782.

Rusia, yang mayoritas umat Gereja Ortodoks, baru menerima kalender Gregorian sebagai kalender negara pada tahun 1917 setelah Revolusi Rusia. Sedangkan Gereja Ortodoks sendiri sampai sekarang masih menggunakan kalender Julian untuk perhitungan hari rayanya.

*

Demikianlah kisah sejarah kalender Gregorian, yang merupakan salah satu kontribusi terbesar Gereja Allah yang satu, kudus, katolik, dan apostolik, terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan umat manusia.

*

Sumber artikel: Catholic Answers — The Day the Church Altered Time, oleh Matthew E. Bunson.
http://www.catholic.com/magazine/articles/the-day-the-church-altered-time

Diadaptasi oleh admin —Deo Duce—
untuk page Facebook Gereja Katolik

Sabtu, 06 Juli 2019

Bunda Maria Tabut Perjanjian Baru

Bukti Alkitabiah, bahwa Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru ditinjau dari perbandingan PL dan PB

Stasi St. Paulus Tangkil

Stasi ini merupakan reksa pastoral dari Paroki St. Maria Lourdes Sumber Muntilan,  satu dari 4 Stasi yang ada.
Gereja ini terletak di desa Tangkil,  desa paling dekat dengan puncak Gunung Merapi. Sekarang juga terdapat Gua Matuka (Maria Tuking Katentreman)
Gereja Stasi St. Paulus Tangkil


Gereja Paroki St. Maria Lourdes Sumber

Jumat, 05 Juli 2019

Calon Paroki Santo Petrus Paulus Merapisari Ngablak Magelang

Mengingat kesamaan profil daerah layanan pastoral yaitu daerah pertanian dan wisata maka keuskupan Agung Semarang mempersiapkan untuk mendirikan paroki baru yang meliputi stasi St. Yusup Getasan  (semula wilayah paroki Kristus Raja Tegalreja Salatiga,  stasi St. Petrus Paulus Merapisari Ngablak, stasi Beata Ruberto Mayer SY,  Stasi St. Elysabeth Pakis,  dan stasi St. Paulus Petung semuanya semula wilayah paroki Maria Fatima Magelang
Gereja St. Petrus Paulus Merapisari Ngablak

Gereja Beato Roberto Meyer SY

Gereja St. Elysabeth Pakis

Gereja St. Paulus Petung

Gereja St. Yusup Getasan 


Gereja St.Yusup Getasan

Jumat, 08 Maret 2019

IKON

TENTANG IKON





















Dapatkah anda melihat perbedaan antara Ikon kudus dengan Lukisan rohani?
Ternyata tidak semua lukisan dalam gereja Katolik Roma dan gereja Protestan adalah Ikon kudus !
Perbedaannya meliputi:
1. Pemaknaan
2. Tujuan
3. Interpretasi pribadi
4. Larangan-larangan
5. Simbolisasi
6. Konsep ruang dan waktu
7. Konsep dimensi
8. Kesan dinamis dan statis
9. Cara penggunaannya.

( Disadur dari FB Lembaga Penelitian Santo Dimitry )

Sabtu, 02 Maret 2019

Kafir

Ketika kata "kafir" ngetrend di masyarakat tentang pro dan kontra, Yesus sudah menyelesaikan masalah ini 2000 th yang lalu
Mat 5 : 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah  terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama  dan siapa yang berkata: Jahil ! harus diserahkan ke dalam neraka  yang menyala-nyala.

Deo Gratias

Senin, 16 April 2018

Hari Minggu digugat

Hari Minggu Digugat


Shaloom Alleichem 

Kaum sempalan yang sedang mencari domba, sering membully Gereja Katolik dalam hal ini ketetapan hari Minggu sebagai hari ibadah utama.
Mereka menuduh Gereja katolik berkompromi dengan agama pagan saat Konstantine mengumumkan dekrit kebebasan beragama di Romawi.
Mereka yang terpisah dari jalur apostolik tidak bisa memahami sejarah Gereja dan ajaran Para Bapa Gereja, ditambah sikap hanya Alkitab yang dipercaya.
Mereka salah dalam memahami alkitab dan mereka tidak bisa memahami bahwa Gereja katolik hanyalah penjaga deposit iman Para Rasul.
Inilah Bukti Alkitabiah sekaligus bukti sejaran tentang Hari Minggu.

 YANG ALKITAB AJARKAN: 

Ada banyak bukti dalam Alkitab dan dalam sumber-sumber serjah lainnya bahwa orang-orang Kristen awal, sejak zaman Rasul-Rasul, bertemu dan kebaktian pada hari pertama minggu, bukan pada hari Sabat.

Bukti-bukti Alkitab berkaitan dengan hari pertama minggu.

Pada hari pertama Yesus bangkit dari kematian (Mar. 16:9)
Pada hari pertama Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya (Mar. 16:9)
Pada hari pertama Yesus bertemu dengan murid-muridNya di berbagai tempat dan berulang kali (Mar. 16:9-11; Mat. 28:8-10; Luk. 24:34; Mar. 16:12-13; Yoh. 20:19-23).
Pada hari pertama Yesus memberkati murid-murid (Yoh. 20:19)
Pada hari pertama Yesus memberikan kepada murid-murid karunia Roh Kudus (Yoh. 20:22)
Pada hari pertama Yesus mengamanatkan murid-murid untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia (Yoh. 20:21; dengan Mar. 16:9-15)
Pada hari pertama banyak orang kudus yang dibangkitkan dari kubur (Mat. 27:52-53)
Hari pertama menjadi hari sukacita dan bagi murid-murid (Yoh. 20:20; Luk. 24:41).
Pada hari pertama Injil tentang kebangkitan Kristus pertama kali diberitakan (Luk. 24:34)
Pada hari pertama Yesus menjelaskan Kitab Suci kepada murid-murid (Luk. 24:27, 45)
Pada hari pertama, pembenaran kita diselesaikan (Rom. 4:25)
Pada hari pertama Roh Kudus turun (Kis. 2:1). Pentakosta adalah pada hari ke-50 setelah Sabat waktu persembahan unjukan (Im. 23:15, 16). Jadi, Pentakosta selalu adalah hari Minggu.
Orang-orang Kristen bertemu untuk acara jemaat pada hari pertama (Kis. 20:6, 7; 1 Kor. 16:2). Hari Minggu adalah “hari Tuhan” (Wah. 1:10) (D.M. Canright, Seventh-day Adventism Renounced).

Sejak zaman itu, mayoritas besar orang-orang Kristen telah selalu berkumpul pada hari Tuhan, yaitu hari pertama minggu. Mereka melakukan ini untuk menghormati kebangkitan Juruselamat mereka. Kristus ada dalam kubur pada hari Sabat, dan bangkit sebagai yang pertama dari antara orang mati pada hari pertama. Sabat menandakan hari terakhir dari ciptaan lama (Kej. 2:2). Minggu adalah hari pertama dari ciptaan baru.

 Bukti Sejarah bahwa Orang Kristen Awal Berjemaat pada Hari Minggu

Epistle of Barnabas (sekitar 100 M): “Oleh karena itu, juga kita memelihara hari kedelapan dengan sukacita, hari saat Yesus bangkit lagi dari kematian.”

Epistle of Ignatius (sekitar 107 M). “Jangan tertipu oleh doktrin-doktrin aneh, atau dengan dongeng-dongeng kuno, yang tidak bermanfaat. Sebab jika kita masih hidup menurut Hukum Yahudi, kita mengakui bahwa kita belum menerima kasih karunia … Oleh sebab itu, jika, mereka yang dibesarkan dalam tatanan lama telah menjadi pemilik dari pengharapan yang baru, tidak lagi memelihara Sabat, tetapi hidup dalam pemeliharaan Hari Tuhan, dalam hal mana hidup kita juga muncul lagi oleh Dia dan oleh kematianNya.”

Justin Martyr (sekitar 140 M). “Dan pada hari yang disebut Minggu, semua yang tinggal di kota-kota atau di desa berkumpul di satu tempat, dan catatan-catatan para Rasul atau tulisan-tulisan para nabi dibacakan. …Tetapi Minggu adalah harinya, pada waktu mana kita semua berkumpul bersama; karena ini adalah hari pertama minggu, saat Allah … menciptakan dunia; dan Yesus Kristus Juruselamat kita pada hari yang sama bangkit dari kematian.”

Bardesanes, Edessa (180 M). “Pada hari pertama minggu, kita berkumpul bersama.”

Clement of Alexandria (194 M). “Dia, untuk menggenapi aturan, menurut Injil, memelihara hari Tuhan … memuliakan kebangkitan Tuhan dalam dirinya.”

Tertullian (200 M). “Kita mengkhusyukkan hari setelah Sabtu, berlawanan dengan mereka yang menyebut hari ini sebagai Sabat mereka.”

Irenaeus (sekitara 155-202 M). “Misteri Kebangkitan Tuhan tidak boleh dirayakan pada hari lain selain hari Tuhan, dan pada hari ini sajalah kita dapat memelihara pemecahan Pesta Paskah.”

Sangatlah jelas bahwa orang-orang Kristen berjemaat pada hari Minggu jauh sebelum abad keempat.

Alleichem Shaloom.