Senin, 23 Maret 2020

Sedikit Kesaksian

JIMMY AKIN pendeta presbytarian Protestan yang kembali kepada Gereja katolik

Doktrin Protestan tentang sola scriptura juga mulai mengganggu saya ketika saya bertanya-tanya bagaimana kita dapat mengetahui dengan pasti buku mana yang termasuk dalam Alkitab. Buku-buku tertentu dalam Perjanjian Baru, seperti injil sinoptik, dapat kita perlihatkan sebagai catatan sejarah yang dapat diandalkan tentang kehidupan Yesus, tetapi ada sejumlah buku Perjanjian Baru (misalnya, Ibrani, Yakobus, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu) yang kepengarangannya dan status kanonik diperdebatkan di Gereja mula-mula.Akhirnya Gereja memutuskan untuk mendukung mereka dan memasukkannya ke dalam kanon buku-buku yang diilhami, tetapi saya melihat bahwa saya, seseorang yang dua ribu tahun dikeluarkan dari tulisan mereka, tidak mungkin membuktikan bahwa karya-karya ini benar-benar kerasulan. Saya hanya harus mengambil kata Gereja di atasnya.

Ini berarti bahwa untuk satu doktrin yang sangat mendasar - doktrin tentang apa itu Alkitab - saya harus percaya kepada Gereja karena tidak ada cara untuk menunjukkan dari dalam Alkitab itu sendiri persis seperti apa kitab-kitab dalam Alkitab. Tetapi saya menyadari bahwa dengan memandang Gereja sebagai saksi yang otentik dan dapat dipercaya tentang kanon, saya melanggar prinsip sola scriptura. Teori "hanya Alkitab" ternyata menyangkal diri, karena tidak dapat memberi tahu kita buku mana yang termasuk dalam Mempelai Perempuan dan mana yang tidak!

Terlebih lagi, penelitian saya dalam sejarah Gereja menunjukkan bahwa kanon Alkitab akhirnya tidak diselesaikan sampai sekitar tiga ratus tahun setelah rasul terakhir meninggal. Jika saya akan mengklaim bahwa Gereja telah melakukan tugasnya dan mengambil buku-buku yang tepat untuk Alkitab, ini berarti bahwa Gereja telah membuat keputusan yang sempurna tiga ratus tahun setelah zaman kerasulan, suatu realisasi yang membuatnya dapat dipercaya bahwa Gereja dapat membuat keputusan Diilhami Roh Kudus.

Rabu, 18 Maret 2020

Salam Pembuka dan Dasar Alkitabiahnya

SALAM APOSTOLIK PARA RASUL PAULUS DIDALAM RITUS PEMBUKA PERAYAAN EKARISTI.

RITUS PEMBUKA

Diawali dengan Tanda salib + Dalam Nama Bapa,dan Putra dan Roh Kudus.

Amin.

Masuk kepada salam Imam :

Salam 1 : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus besertamu.

Dasar Alkitab : 2 Korintus 13:13
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

Salam 2 : Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita, Yesus Kristus, besertamu.

Dasar Alkitab : 1 Korintus 1:3 
Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Salam 3 : Kasih karunia, rahmat, dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Putra-Nya,Yesus Kristus, besertamu.

Dasar Alkitab : 2 Yohanes 1:3
Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.

Salam 4 : Allah Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus mempersatukan saudara-saudari.

Dasar Alkitab : Roma 15:5-6
Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.


Senin, 27 Januari 2020

Maria Sedes Sapientiae / Maria Tahta Kebijaksanaan

Salah satu gelar dari Bunda Maria adalah Maria Sedes Sapientiae atau Maria Tahta Kebijaksanaan. Gelar ini diberikan karena Sang Bijaksana yaitu Yesus Sang Firman yang menjelma menjadi manusia bertahta pada rahimnya. Patung atau gambar Maria Sedes Sapientiae digambarkan Maria dengan mahkota dan bunga Lili duduk di kursi atau tahta dan sedang memangku kanak-kanak Yesus.
Gelar ini banyak digunakan umat untuk spiritualitas dunia pendidikan misal : di SMA Marsudirini Sedes Sapientiae Kota Semarang,  universitas Katolik Leuven Belgia.

Sabtu, 28 Desember 2019

Penentuan Kelahiran Kristus Berdasarkan Kitab Suci

PENENTUAN KELAHIRAN KRISTUS BERDASARKAN KITAB SUCI

Penentuan kelahiran Kristus berdasarkan Kitab Suci, terdiri dari 2 langkah. Pertama adalah menentukan kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Langkah berikutnya adalah menggunakan hari kelahiran Yohanes Pembaptis sebagai kunci untuk menentukan hari kelahiran Kristus. Kita dapat menemukan bahwa Kristus lahir di akhir Desember dengan mengamati kali pertama dari tahun itu, yang disebutkan oleh St. Lukas, St. Zakaria melayani di bait Allah. Ini memberikan kepada kita perkiraan tanggal konsepsi St. Yohanes Pembaptis. Dari sini dengan mengikuti kronologis yang diberikan oleh St. Lukas, kita sampai pada akhir Desember sebagai hari kelahiran Yesus.

St. Lukas mengatakan bahwa Zakaria melayani pada ‘rombongan Abia’ (Luk 1:5). Kitab Suci mencatat adanya 8 rombongan di antara 24 rombongan imamat (Neh 12:17). Setiap rombongan imam melayani satu minggu di bait Allah, dua kali setahun. Rombongan Abia melayani di giliran ke-8 dan ke-32 dalam siklus tahunan. Namun bagaimana siklus dimulai?

Josef Heinrich Friedlieb telah dengan meyakinkan menemukan bahwa rombongan imam pertama, Yoyarib, bertugas sepanjang waktu penghancuran Yerusalem pada hari ke-9 pada bulan Yahudi yang disebut bulan Av. ((Josef Heinrich Friedlieb’s Leben J. Christi des Erlösers. Münster, 1887, p. 312.)) Maka masa rombongan imamat Abia (yaitu masa Zakaria bertugas) melayani adalah minggu kedua bulan Yahudi yang disebut Tishri, yaitu minggu yang bertepatan dengan the Day of Atonement, hari ke-10. Di kalender kita, the Day of Atonement dapat jatuh di hari apa saja dari tanggal 22 September sampai dengan 8 Oktober.

Dikatakan dalam Injil bahwa Elisabet mengandung ‘beberapa lama kemudian/ after these days‘ setelah masa pelayanan Zakaria (lih. Luk 1:24). Maka konsepsi St. Yohanes Pembaptis dapat terjadi sekitar akhir September, sehingga menempatkan kelahiran St. Yohanes Pembaptis  di akhir Juni, meneguhkan perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni.

Buku Protoevangelium of James dari abad ke-2 menggambarkan St. Zakaria sebagai imam besar dan memasuki tempat maha kudus…. dan ini mengasosiasikan dia dengan the Day of Atonement, yang jatuh di tanggal 10 bulan Tishri (kira-kira akhir September). Segera setelah menerima pesan dari malaikat Gabriel, Zakaria dan Elizabet mengandung Yohanes Pembaptis. Perhitungan empat puluh minggu setelahnya, menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis di akhir Juni, meneguhkan perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni.

Selanjutnya… dikatakan bahwa sesaat setelah Perawan Maria mengandung Kristus, ia pergi untuk mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung di bulan yang ke-6. Artinya umur Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua daripada Yesus Kristus (lih. Luk 1:24-27, 36). Jika 6 bulan ditambahkan kepada 24 Juni maka diperoleh 24-25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus. Jika tanggal 25 Desember dikurangi 9 bulan, diperoleh hari peringatan Kabar Gembira (Annunciation) yaitu tanggal 25 Maret… Maka jika Yohanes Pembaptis dikandung segera setelah the Day of Atonement, maka tepatlah penanggalan Gereja Katolik, yaitu bahwa kelahiran Yesus jatuh sekitar tanggal 25 Desember.

Selain itu Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Sumber dari Tradisi tersebut adalah kesaksian Bunda Maria sendiri. Sebagai ibu tentu ia mengetahui dengan rinci tentang kelahiran anaknya [dan ini yang diteruskan oleh para rasul dan para penerus mereka]. Bunda Maria pasti mengingat secara detail kelahiran Yesus ini yang begitu istimewa, yang dikandung tidak dari benih laki-laki, yang kelahirannya diwartakan oleh para malaikat, lahir secara mukjizat dan dikunjungi oleh para majus.

Sebagaimana umum bahwa orang bertanya kepada orangtua yang membawa bayi akan umur bayinya, demikian juga orang saat itu akan bertanya, “berapa umur anakmu?” kepada Bunda Maria. Maka tanggal kelahiran Yesus 25 Desember (24 Desember tengah malam), akan sudah diketahui sejak abad pertama. Para Rasul pasti akan sudah menanyakan tentang hal ini dan baik St. Matius dan Lukas mencatatnya bagi kita. Singkatnya, adalah sesuatu yang masuk akal jika para jemaat perdana telah mengetahui dan merayakan kelahiran Yesus, dengan mengambil sumber keterangan dari ibu-Nya.

Kesaksian Para Bapa Gereja Tentang Tanggal Kelahiran Kristus

Kesaksian berikutnya adalah dari para Bapa Gereja abad-abad awal (abad 1 sampai awal abad 4) di masa sebelum pertobatan Kaisar Konstantin dan kerajaan Romawi. Para Bapa Gereja tersebut telah mengklaim tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus.

Catatan yang paling awal tentang hal ini adalah dari Paus Telesphorus (yang menjadi Paus dari tahun 126-137), yang menentukan tradisi Misa Tengah malam pada Malam Natal… Kita juga membaca perkataan Teofilus (115-181) seorang Uskup Kaisarea di Palestina: “Kita harus merayakan kelahiran Tuhan kita pada hari di mana tanggal 25 Desember harus terjadi.” ((Magdeburgenses, Cent. 2. c. 6. Hospinian, De origine Festorum Christianorum.))

Tak lama kemudian di abad kedua, St. Hippolytus (170-240) menulis demikian: “Kedatangan pertama Tuhan kita di dalam daging terjadi ketika Ia dilahirkan di Betlehem, di tanggal 25 Desember, pada hari Rabu, ketika Kaisar Agustus memimpin di tahun ke-42, …. Ia [Kristus] menderita di umur tiga puluh tiga, tanggal 25 Maret, hari Jumat, di tahun ke-18 Kaisar Tiberius, ketika Rufus dan Roubellion menjadi konsul. ((St. Hippolytus of Rome, Commentary on Daniel.))

Dengan demikian tanggal 25 Maret menjadi signifikan, karena menandai hari kematian Kristus (25 Maret sesuai dengan bulan Ibrani Nisan 14- tanggal penyaliban Yesus. Kristus, sebagai manusia sempurna- dipercaya mengalami konsepsi dan kematian pada hari yang sama, yaitu tanggal 25 Maret…Maka tanggal 25 Maret dianggap istimewa dalam tradisi awal Kristiani. 25 Maret ditambah 9 bulan, membawa kita kepada tanggal 25 Desember, yaitu kelahiran Kristus di Betlehem.

St. Agustinus meneguhkan tradisi 25 Maret sebagai konsepsi Sang Mesias dan 25 Desember sebagai hari kelahiran-Nya: “Sebab Kristus dipercaya telah dikandung di tanggal 25 Maret, di hari yang sama saat Ia menderita; sehingga rahim Sang Perawan yang di dalamnya Ia dikandung, di mana tak seorang lain pun dikandung, sesuai dengan kubur baru itu di mana Ia dikubur, di mana tak seorang pun pernah dikuburkan di sana, baik sebelumnya maupun sesudahnya. Tetapi Ia telah lahir, menurut tradisi, di tanggal 25 Desember.” ((St. Augustine, De Trinitate, 4, 5.))

Di sekitar tahun 400, St. Agustinus juga telah mencatat bagaimana kaum skismatik Donatist merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi mereka menolak merayakan Epifani di tanggal 6 Januari, sebab mereka menganggapnya sebagai perayaan baru tanpa dasar dari Tradisi Apostolik. Skisma Donatist berasal dari tahun 311, dan ini mengindikasikan bahwa Gereja Latin telah merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember sebelum tahun 311. Apapun kasusnya, perayaan liturgis kelahiran Kristus telah diperingati di Roma pada tanggal 25 Desember, jauh sebelum Kristianitas dilegalkan dan jauh sebelum pencatatan terawal dari perayaan pagan bagi kelahiran Sang Matahari yang tak Terkalahkan. Untuk alasan ini, adalah masuk akal dan benar untuk menganggap bahwa Kristus benar telah dilahirkan di tanggal 25 Desember, dan wafat dan bangkit di bulan Maret, sekitar tahun 33.

Sedangkan tentang perhitungan tahun kelahiran Yesus, menurut Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives, adalah sekitar tahun 7-6 BC. Paus mengutip pandangan seorang astronomer Wina, Ferrari d’ Occhieppo, yang memperkirakan terjadinya konjungsi planet Yupiter dan Saturnus yang terjadi di tahun 7-6 BC (yang menghasilkan cahaya bintang yang terang di Betlehem), yang dipercaya sebagai tahun sesungguhnya kelahiran Tuhan Yesus. ((Pope Benedictus XVI,  Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives, kindle version, loc. 1097-1101))

Sumber: http://www.katolisitas.org/apakah-yesus-lahir-tanggal-25-desember/

 ✥ Instaurare Omnia in Christo ✥

Kamis, 26 Desember 2019

Doa Yang Tak Pernah Sia-Sia

Ada seorang bapak muda, dia dulu mengenal Kristus saat remaja dan akhirnya menyerahkan dirinya untuk dibaptis. Setelah sekian lama hidup diantara orang-orang yang tidak katolik, dia bertemu dengan wanita yang dicintainya dan menikah diluar Gereja. Dia baru mengetahui bahwa hal itu membuat dia tidak bisa menerima komuni. Maka dia setiap hari ikut misa disuatu gereja dengan tempat duduk yang sama tanpa menyambut komuni. Setelah puluhan tahun betapa kagetnya ia ketika mendapat undangan dari mertuanya untuk ikut mendampingi mertua sekeluarga saat dibaptis.Air matanya mengalir selama misa pagi,  begitu besar kasih Allah dan di jawab dengan karunia yang lebih besar dari yang ia minta. Dan satu tahun berikutnya istri dan anaknya juga dibaptis sekaligus pembaharuan perkawinan. Dan dia merasakan karunia terindah bisa menerima Tubuh dan Darah Kristus setelah puluhan tahun dirindukannya. 
Sudahkah kita (terutama bapak,  Ibu,  kakek,  nenek) mendoakan orang-orang yang kita cintai agar menjadi murid Kristus?
Tuhan Memberkati. 

Rabu, 25 Desember 2019

Gereja Katolik

APAKAH GEREJA PERDANA ITU GEREJA KATOLIK ?
Oleh: Jim Blackburn

Orang Protestan seringkali menyatakan bahwa Gereja yang Yesus dirikan adalah “Gereja Kristen,” bukan Gereja Katolik. Adapun bukti Alkitabiah yang dikutip suntuk pernyataan mereka ditemukan dalam Kisah Para Rasul: “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kisah Para Rasul 11:25-26).

Banyak orang Kristen modern mengira bahwa Gereja Katolik didirikan hanya oleh manusia, jauh di kemudian hari dalam sejarah Kekristenan. 

Tidak diragukan lagi, para murid dalam Gereja perdana dikenal sebagai Kristen. Namun, apakah ini berarti Gereja mereka bukan Gereja Katolik? Sedikit studi sejarah tentang Gereja di Antiokhia menunjukkan bahwa Gereja Kristen perdana ini memanglah Gereja Katolik.

Satu hal yang dilakukan Petrus sebelum dia menuju ke Roma adalah mendirikan gereja di Antiokhia, yang pada saat itu merupakan kota terbesar ketiga di Kekaisaran Romawi. Petrus menahbiskan seorang murid yang bernama Evodius ke wilayah keuskupan itu dan mengangkat dia sebagai Uskup Antiokhia. Evodius dipercaya oleh kebanyakan orang sebagai salah seorang dari tujuh puluh murid yang ditunjuk Yesus untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya untuk mengajar pada perjalanan misinya yang kedua (lihat Lukas 10:1). Pada masa Evodius menjabat sebagai Uskup Antiokhia, para murid untuk pertama kalinya disebut Kristen. Namun, ini bukanlah akhir dari kisahnya!

Sementara Paulus mengajar orang-orang Kristen di Antiokhia selama Evodius menjabat sebagai Uskup, seorang murid lainnya yang masih muda naik pangkat. Namanya Ignatius, yang kemudian dikenal sebagai St. Ignatius dari Antiokhia, seorang martir Kristen mula-mula. Ignatius merupakan seorang murid dari Yohanes. Adapun ada sebuah legenda mengatakan bahwa di masa kanak-kanaknya, Ignatius ialah seorang anak yang diambil Yesus dan memeluknya dalam ayat yang dicatat oleh Markus:

Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Markus 9:35-37)

Adanya legenda ini menunjukkan suatu penghargaan besar atas kenangan mengenai Ignatius di abad-abad awal Gereja.
Di Antiokhia, Ignatius ditahbiskan oleh Paulus yang di kemudian hari dia diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh Petrus untuk menggantikan Evodius. Dia memegang jabatan itu selama bertahun-tahun sebelum dia menjadi martir di Roma, beliau menulis beberapa surat kepada umat Kristen di berbagai wilayah, yang isinya menguraikan teologi Kristen. Secara khusus beliau menekankan persatuan umat Kristen (lihat Yohanes 17) dan beliau dikenal sebagai seorang Bapa Gereja Apostolik.

Dalam salah satu suratnya (kepada umat Kristen di Smyrna), beliau menulis, “Di mana Kristus Yesus berada, di sana ada Gereja Katolik.” Inilah catatan tertulis paling awal mengenai istilah “Gereja Katolik” (ditulis sekitar tahun 107 M), namun Ignatius sepertinya menggunakan istilah itu dengan anggapan bahwa orang-orang Kristen pada zaman itu sudah akrab dengan sebutan itu. Dalam kata lain, meskipun tulisan Ignatius itu merupakan tulisan yang paling awal yang menggunakan istilah itu, namun kemungkinan istilah itu sudah digunakan untuk waktu yang cukup lama, yang berasal dari zaman para rasul.

Istilah “Gereja Katolik” (bahasa Yunani: katholike ekklesia) secara luas bermakna “persekutuan umat universal,” dan Ignatius menggunakannya ketika menulis surat untuk kepada umat Kristen di Smyrna sebagai istilah yang erat hubungannya dengan persatuan. Beliau menasihati umat Kristen di sana untuk menaati uskup mereka sama seperti jemaat Kristen universal yang menaati Kristus. Beliau dengan jelas membedakan istilah “Kristen” dan “Gereja Katolik,” para murid Kristus adalah Kristen, umat Kristen universal adalah Gereja Katolik.

Beberapa orang mungkin menyatakan bahwa Ignatius bermaksud menggunakan istilah “Gereja Katolik” bukan sebagai nama Gereja yang spesifik, namun sebagai sebutan umum yang merujuk pada persekutuan umat Kristen dalam skala yang lebih besar. Jika demikian, maka persekutuan umat universal ini belum mempunyai nama yang pasti, tapi “Gereja Katolik” terus menerus digunakan sampai menjadi nama yang pasti sebagai satu Gereja yang didirikan Kristus atas St. Petrus dan para penggantinya.

Maka dari itu, kita bisa melihat bahwa orang Kristen di Antiokhia adalah bagian Gereja Katolik. Mereka memang para murid Kristen, namun mereka juga adalah Katolik. Dengan rantai suksesi yang tidak terputus di Antiokhia, sejak dari Petrus (yang diutus oleh Kristus) diteruskan kepada Evodius kemudian diteruskan lagi kepada Ignatius. Maka jika ada orang Kristen saat ini ingin mengidentifikasi umat Kristen yang Alkitabiah pada abad pertama seperti yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 11, maka secara logis harus mengidetifikasikan orang Kristen yang sama itu sama dengan persekutuan umat Kristen universal yaitu Gereja Katolik.

Ref:
https://terangiman.com/2019/10/21/apakah-gereja-perdana-itu-gereja-katolik/?fbclid=IwAR3ajuIZQILDT_YZK_J6rgxPT7YkQy23GWVQFlp8VjCDv6DtgYOtRMu-SZo