Adorasi Abadi Harusnya Ada Di Setiap ParokiKetika saudara kita yang lain berjalan begitu dinamis , masihkah kita umat katolik dapat mensejajarkan diri dengan mereka? Hari minggu yang dulu digunakan oleh umat katolik untuk sekolah minggu, sekarang umat beragama lainpun menggunakan hari tersebut untuk membina anak2 untuk memperdalam agama mereka mis: umat Islam ,Budha dan Hindu belum acara2 keagamaan hari2 yang lain yang bisa jadi seminggu 3 sampai 4 kali pembinaan agamanya. Tetapi dilain pihak banyak umat Katolik justru meninggalkan tradisi tersebut. Di kampus dan disekolah2 negri mereka begitu antusias mengkader para siswa dilain pihak sekolah katolik mlempem dalam pengkaderan siswa2 yang katolik. sekolah katolik hanya sekedar misa satu tahun 2 kali pada pembukaan tahun ajaran dan tutup tahun ajaran ditambah natal atau paskah.Banyak pemuda dan pemudi katolik meningalkan iman mereka karena pacaran dengan non katolik atau karena sekolah diluar kota dan disana mereka tidak dapat menjelaskan iman mereka ketika ditanya ,sehingga dengan mudah mereka ragu dengan imannya kemudian keluar dari Gereja.Dilain pihak orang tua lebih memilih kemampuan ekonomi pasangan anaknya dari pada imannya.
Umat yang lain dengan segala profesinya merapatkan barisan untuk dakwah agama, dilain pihak umat katolik yang punya posisi malu mencantumkan nama baptisnya dengan berbagai alasan.
Para selebritis dan politikus dengan bangga dalam siaran persnya kalau sudah meninggalkan Yesus. Banyak paroki2 dengan bangga mencatat banyaknya baptisan baru, tetapi tak pernah peduli berapa yang keluar dari Gereja. Bahkan para imam dengan segala dalihnya membenarkan diri bahwa iman tidak boleh dipaksakan. Dalam kontak jodoh mis di kompas misalnya banyak anak2 katolik tidak peduli dengan syarat agama yang dianut jodoh yang diinginkannya.
Gereja katolik seakan terlena dengan kemapanannya selama ini, bahkan pengkaderan anak2 muda dalam berbagai profesi telah lama absen. Para muda-mudi yang potensial misalnya aktif digereja bahkan menjadi ketua mudika tiba2 meninggalkan Gereja ketika pasangannya beda agama , banyak para orang tua yang dulu menjadi katekis anak2nya banyak yang ikut agama pasangannya .Apakah hal ini mau masih berlanjut? Hanya kita umat katolik yang dapat menjawabnya. Untuk itu bagi para hirakhi Gereja diperlukan cara baru pembinaan iman umat!.
Dijaman yang serba membingungkan umat butuh kepastian kebenaran imannya, untuk itu walaupun minoritas butuh kebangaan akan imannya sehingga dengan percaya diri dapat melangkah sejajar dengan umat lain, untuk itu pengetahuan akan ajaran gereja katolik sangat diperlukan dalam setiap kotbah digereja disamping cara hidup yang sesuai dengan iman katolik.
Coba lihat sekitar kita, berapa anak2 muda yang dapat menjelaskan iman katolik bila ditanya? dengan berbagai alasan mereka mesti menghindar dengan pertanyaan itu. Mereka hanya tertarik dengan kegiatan gereja yan maaf agak hura2 dari pada belajar cara mengikuti ekaristi yang baik misalnya,atau membahas mengapa Gereja menghormati Maria ,percaya api penyucian dsb. Nah itu adalah realita kita entah kita mengamini atau menyangkal terserah kita mau kemana.